BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sulitnya
mencari sekolah ideal bagi anak-anak menjadi isu yang sering diperbincangkan
belakangan ini di kalangan orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Tak dapat
dipungkiri bahwa standar sekolah ideal yang diinginkan para orangtua maupun
pemerhati pendidikan menjadi semakin sulit untuk ditemukan. Kerap kali sekolah
formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal
justru seringkali memasung inteligensi anak. Ketidakpedulian para praktisi pendidikan
terhadap kondisi psikologis anak seringkali dianggap sebagai penyebab situasi
ini. Di sisi lain, bergesernya motif pendidikan dari ranah sosial ke ranah
bisnis juga menjadi satu faktor yang paling menentukan. Belum lagi faktor
sumberdaya manusia (dalam hal ini para guru) yang sudah sangat jauh dari
idealisme pendidik. Kondisi ini bertambah lengkap ketika pemerintah tidak
memberikan perhatian serius dalam menuntaskan masalah-masalah pendidikan,
terutama untuk memberikan subsidi yang ‘berarti’ bagi dunia pendidikan.
Padahal, pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan
suatu bangsa.
Adalah hal
yang wajar bila setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan
bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar
yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan di sekolah umum.
Banyaknya keluhan tentang kondisi sekolah yang jauh dari harapan orangtua
memunculkan isu yang relatif baru bagi alternatif pendidikan formal yang selama
ini kita kenal, yaitu sekolah-rumah (homeschooling). Muncullah ide dari
para orangtua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah dalam sebuah lembaga
sekolah yang disebut homeschooling atau dikenal juga dengan istilah
sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Definisi Homeschooling
2.
Sejarah Homeschooling
3.
Model Homeschooling
dalam Sistem Pendidikan Islam
4.
Tokoh Dunia yang Mengikuti Homeschooling
5.
Homeschooling dan Perkembangan Anak
6.
Motivasi Mengikuti Homeschooling
7.
Metodologi Homeschooling
8.
Prasyarat bagi Peserta Homeschooling
9.
Kontroversi dan Kritik
10.
Homeschooling di Indonesia
C.
Tujuan
1.
Memahami Definisi
Homeschooling
2.
Mengetahui Sejarah Homeschooling
3.
Mengetahui
Model Homeschooling dalam Sistem
Pendidikan Islam
4.
Mengetahui Homeschooling
di Indonesia
5.
Memenuhi tugas mata kuliah PAI
LS
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Definisi
Homeschooling
Homeschooling atau homeschool
(juga disebut home education atau home learning) adalah
pendidikan anak-anak yang diselenggarakan di rumah, secara umum dilakukan oleh
orangtua namun kadangkala oleh tutor (guru pemandu). Pelaksanaannya di luar setting
formal sekolah publik atau privat. Walaupun, secara umum pendidikan anak yang
berlangsung dalam keluarga atau komunitas berlandaskan pada hukum wajib belajar
(compulsory school), homeschooling dalam pemahaman modern merupakan
alternatif pendidikan formal di negara berkembang. Homeschooling merupakan
sebuah sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link
& mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi
esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik.
Homeschooling menjadi
alternatif pendidikan yang legal –di banyak tempat– bagi para orangtua yang
ingin memenuhi kebutuhan anaknya akan lingkungan belajar yang lebih baik.
Merupakan alternatif pilihan disamping sekolah-sekolah publik yang telah
disediakan pemerintah. Orangtua memiliki beragam motivasi kenapa memilih homeschooling,
di antaranya adalah hasil tes akademis siswa homeschooling yang lebih baik;
miskinnya lingkungan sekolah publik; mengembangkan karakter atau moralitas;
serta kurangnya penerimaan terhadap apa yang diajarkan di sekolah umum lokal.
Bisa jadi hal ini merupakan salah satu faktor dalam gaya pengasuhan orang tua.
Bisa jadi juga merupakan salah satu alternatif pilihan bagi keluarga yang
tinggal di daerah pinggiran yang terisolasi atau mungkin tinggal sementara di
luar kota.
Homeschooling bisa jadi
juga berupa instruksi/modul-modul yang diberikan di rumah namun tetap di bawah
supervisi sekolah korespondensi/mitra (correspondence schools) sekolah
yang menaungi (umbrella schools). Di beberapa
tempat, anak-anak yang akan mengikuti homeschooling dituntut untuk
mengikuti kurikulum yang disetujui secara legal.Filosofi homeschooling
yang curriculum-free bisa jadi dianggap sebagai unschooling, suatu terma yang diciptakan pada tahun 1977 oleh
tokoh pendidikan John Holt dalam
majalahnya Growing Without Schooling.
B.
Sejarah Homeschooling
Menurut
sejarah di berbagai budaya, guru-guru profesional hanya tersedia bagi
lingkungan elit, baik sebagai tutor maupun dalam lingkungan akademis formal.
Sampai saat ini, sebagian besar orang dididik oleh orangtuanya (terutama
pendidikan masa kanak-kanak, di lapangan atau dalam mempelajari tata cara
berdagang).
Filosofi
berdirinya sekolah rumah adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan
senang belajar sehingga tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang
membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak,
mengatur, atau mengontrolnya” (John Cadlwell Holt dalam bukunya How Children
Fail, 1964). Dipicu oleh filosofi tersebut, pada tahun 1960-an terjadilah
perbincangan dan perdebatan luas mengenai pendidikan sekolah dan sistem
sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak dan pendidikan, Holt mengatakan bahwa
kegagalan akademis pada siswa tidak ditentukan oleh kurangnya usaha pada sistem
sekolah, tetapi disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.
Pada waktu
yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan
Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua
menyekolahkan anak lebih awal (early childhood education). Penelitian
mereka menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia
8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk
bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan
mereka.
Setelah
pemikirannya tentang kegagalan sistem sekolah mendapat tanggapan luas, Holt
sendiri kemudian menerbitkan karyanya yang lain Instead of Education; Ways
to Help People Do Things Better, (1976). Buku ini pun mendapat sambutan
hangat dari para orangtua homeschooling di berbagai penjuru Amerika Serikat.
Pada tahun 1977, Holt menerbitkan majalah untuk pendidikan di rumah yang diberi
nama: Growing Without Schooling.Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy
Moore kemudian menjadi pendukung dan konsultan penting homeschooling.
Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan.
Selain karena alasan keyakinan (beliefs), pertumbuhan homeschooling
juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah formal.
Pada saat
bersamaan, para penulis menerbitkan buku yang mempertanyakan tentang wajib
belajar, termasuk ide Deschooling Society by Ivan Illich, 1970 dan No More Public School by Harold
Bennet di tahun 1972. Konsep Deschooling Society yang dilontarkan Illich
(disamping Paulo Freiri dan Everett Reimer) tersebut tak urung memberikan
inspirasi pada Prof Azyumardi Azra –seorang cendekiawan Muslim Indonesia—
dengan konsepnya tentang Universitas Rakyat. Di Universitas Rakyat, kurikulum
dan materi yang dikembangkan tidak terikat. Bidang ilmu dan keahlian apa saja
bisa dipelajari dan dikembangkan di sini. Sedangkan metode pengajaran yang
digunakan tidak pula ditentukan secara ketat dan formal, ia bebas dan bisa
berubah terus sesuai dengan konsensus ”guru” dan ”murid”. Metode pengajaran
tidak dipersoalkan, karena yang penting pelajaran dan keahlian dapat dikuasai.
Pada tahun
1976, Holt menerbitkan buku Instead of Education; Ways to Help People Do
Things Better. Ia terpanggil menulis “Children’s Underground Railroad” untuk
membantu anak-anak terbebas dari wajib belajar. Sebagai responnya, Holt
dihubungi para keluarga dari seluruh USA untuk menyatakan kepadanya bahwa
mereka mendidik anak mereka di rumah. Setelah berhubungan dengan beberapa
keluarga, Holt mulai memproduksi majalah yang ia dedikasikan bagi pendidikan
rumah.: Growing Without Schooling.
Pada tahun
1980, Holt mengatakan, “Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak melihat homeschooling
sebagai jawaban bagi keburukan sekolah. Saya rasa rumah memang menjadi dasar
untuk mengeksplorasi dunia yang kita namakan sebagai belajar atau pendidikan.
Rumah menjadi tempat terbaik, sebaik apapun sekolah yang ada. Holt kemudian
menulis buku tentang homeschooling, “Teach Your Own”, pada
tahun 1981.
Satu tema umum
yang terdapat pada filosofi Holt dan Moores adalah bahwa pendidikan rumah
seharusnya bukan merupakan usaha membawa konstruk sekolah ke rumah, atau
memandang pendidikan sebagai pengantar akademis dalam kehidupan. Mereka
memandangnya sebagai sesuatu yang alami, aspek pengalaman hidup yang muncul
ketika anggota keluarga terlibat satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.
C.
Model Homeschooling dalam Sistem Pendidikan
Islam
Sejarah
lembaga dan organisasi pendidikan Islam menggambarkan betapa lembaga dan
kurikulum yang baku bukanlah suatu yang utama dalam pendidikan, tetapi, guru,
materi yang diminati dan tempat belajar yang didukung sarana dan prasarana
belajar yang memadai menjadi hal utama yang sangat berperan dalam perolehan
ilmu para ilmuan Muslim masa klasik.
Di Kairo pada
abad 14-15 didominasi oleh madrasah, Masjid dan tempat suci para sufi yang
didesain dan dibangun sebagai tempat bernaung dan penginapan bagi para pelajar
dan guru-guru dan menjadi forum bagi kelas-kelas mereka. Persebaran
institusi-institusi tersebut tidak terjadi karena upaya formalisasi proses
pendidikan. Hukum Islam tidak memberikan pada mereka identitas organisasi;
tidak dibangun metode yang menjamin strata institusi. Semua sistem tetap
sebagaimana adanya. Sepenuhnya non sistematik.
Menurut Prof.
Syaiful Akhyar Lubis, dalam dunia pendidikan Islam dikenal adanya dua sistem
pendidikan, yakni yang tradisional dan modern. Pendidikan tradisional
menghendaki perkembangan individu yang utuh atas dasar kemampuan dan minat
masing-masing. Setiap orang bebas memilih muatan pendidikan yang sesuai dengan
kondisinya. Layanan individual dalam sistem ini mendapat porsi yang wajar.
Aspek kesadaran dan motivasi intrinsik lebih menonjol daripada paksaan dan
motivasi ekstrinsik.
Dalam sistem
pendidikan Islam modern, ditemukan kenyataan bahwa tidak sepenuhnya diterapkan
prinsip yang sesungguhnya dikehendaki pendidikan modern. Dalam sistem sekolah,
semua peserta didik diperlakukan sama, perbedaan individual dirasakan kurang
mendapat perhatian. Peserta didik dipaksa dengan muatan pendidikan yang seragam
karena pertimbangan sistem. Homeschooling tampaknya memiliki dasar
pandangan yang sejalan dengan sistem pendidikan Islam tradisional.
D.
Tokoh Dunia
yang Mengikuti Homeschooling
Dalam sejarah
pendidikan Islam, model homeschooling sebenarnya sudah lama
dipraktekkan. Pada umumnya ilmuan muslim memperoleh pendidikan bukan dari model
sekolah formal seperti yang ada saat ini, tapi dari model sekolah yang lebih
bebas memilih, tidak terkotak-kotak dan tidak terikat pada kurikulum.
Walaupun tidak
mengistilahkan dengan homeschooling, bagaimana para ahli memilih bidang
kajian yang ingin ditekuninya, atau bagaimana orangtua mereka memilihkan sumber
ilmu bagi mereka, pada dasarnya mirip dengan praktek homeschooling
dewasa ini. Simak saja bagaimana al-Tusi memperoleh pengetahuannya di luar
jalur formal:
“Di masa-masa
awal, al-Thusi mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri, Muhammad Ibn
al-Hasan yang juga seorang ahli fikih. Dalam lingkungan ini al-Thusi
mematangkan pengetahuan keagamaannya. Di samping dari ayahnya, al-Thusi juga
dibimbing oleh seorang pamannya yang memberikan dasar-dasar pemahaman yang
sangat mempengaruhinya di masa-masa berikutnya. Dari pamannya ini al-Thusi
memperoleh pengetahuan dasar tentang logika, fisika dan metafisika.”
Simak juga sejarah
intelektual ilmuan Muslim Murtadha Muthahharî:
”Pendidikan pertama
diperolehnya dari ayahnya sendiri, yaitu Syekh Muhammad Husain Muthahharî,
seorang ulama yang disegani di Iran, terutama di propinsi Khurasan. Pendidikan
itu mengantarkannya ke lingkungan santri di pusat pengkajian agama (lazim
disebut Hauzah ‘Ilmiyah) di kota Masyhad, tempat makam imam Ali al-Rida
–imam kedelapan dalam keyakinan Syi’ah Dua Belas (Twelver ShÄ«‘ah Islamic belief)— yang terletak di
Timur laut Iran, ketika ia baru berumur dua belas tahun.
Demikian pula Riwayat
pendidikan Ibn. Qayyim al-Jawziyya sebagaimana dikutip di bawah ini:
“Ibn al-Qayyim’s
teachers included his father……. He attained great proficiency in many
branches of knowledge; particularly knowledge of tafsir, hadith, and usool. When Shaykh
Taqiyyud-Deen Ibn Taymiyyah returned from
Egypt in the year 712H (c. 1312), he stayed with the Shaykh
until he died; learning a great deal of knowledge from him, along with the
knowledge that he had already occupied himself in attaining. So he became a
single Scholar in many branches of knowledge.”
Dari luar Islam
dikenal pula beberapa nama, antara lain:
- Abraham Lincoln (1809–1865) President Amerika Serikat ke-16, hanya mengikuti sedikit kegiatan sekolah formal. Dia adalah seorang kutu buku dan belajar membaca, menulis dan berhitung secara otodidak.
- Andrew Wyeth (1917), pelukis realis Amerika, keluar dari sekolah pada usia yang sangat muda karena sakit. Ia kemudian menerima pendidikan seni dan subjek lain dari orangtuanya.
- Bode Miller (1977), pemin ski dari Amerika. Menerima pendikan homeschooling dari orangtuanya sampai ia berusia 10 tahun.
- Che Guevara (1928), pemimpin gerilya Kuba, Afrika, dan Bolivia. Ia juga komandan penjara dan presiden Bank Nasional Kuba. Beliau dididik di rumah, terutama oleh ibunya sampai ia berusia 13 tahun.
- Ernst Mach, Dokter dari Austria, Mengikuti homeschooling dari orangtuanya sampai SMA.
- Erwin Schrödinger, seorang dokter pemenang hadiah Nobel. Mengikuti homeschooling sampai usia 10 tahun.
- Elizabeth II (1926), ratu Inggris, menerima pendidikan awalnya di rumah. Received. Sesudahnya ia belajar di Eton College.
- George Washington, President Amerika yang pertama.
- Thomas Edison (1847–1931). Seorang penemu dan pebisnis. Beliau belajar membaca, menulis dan aritmatik dari ibunya. Sebelumnya ia mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Sebagian besar pendidikannya ia terima dari membaca buku.
E.
Homeschooling dan
Perkembangan Anak
Bila
memperbincangkan tentang bagaimana sebuah sekolah masa kini dapat meningkatkan
perkembangan anak, maka bahasan tidak dapat terlepas dari berbagai perubahan
dalam filosofi pendidikan yang terjadi sepanjang sejarah yang menyebabkan
terjadinya perubahan dalam teori dan praktek pendidikan. Dari pendidikan yang
mengandalkan “three R’s” (reading, ‘riting, dan ‘rithmetic) ke
metode “berpusat pada anak” yang berfokus pada minat anak.
Saat ini
banyak pendidikan yang merekomendasikan pengajaran anak pada tingkat awal
dengan mengintegrasikan bidang yang berkaitan dengan subjek dan mendasarkan
kepada minat dan bakat alamiah anak. Misalnya belajar membaca dan matematika
dalam konteks proyek studi sosial, atau mengajarkan konsep matematika melalui
studi musik. Mereka mendukung proyek kooperatif, menawarkan partisipasi aktif
pemecahan masalah dan kooperasi rapat orang tua-guru.
Banyak
pendidik kontemporer yang juga menekankan ”R” keempat, yaitu reasoning
(penalaran). Anak-anak yang diajari keterampilan berpikir dalam konteks subjek
akademis terbukti lebih baik dalam tes kecerdasan dan prestasi sekolah.
Stenberg mengungkapkan bahwa siswa akan belajar lebih baik ketika diajari
dengan berbagai macam cara, menekankan keterampilan kreatif dan praktis
sekaligus mengingat dan berpikir kritis.
Berbagai
perubahan dalam teori dan praktek pendidikan yang disebutkan di atas tampaknya
akan sulit dicapai pada model praktek pendidikan yang biasa kita temukan pada
sekolah-sekolah formal di Indonesia. Para orangtua yang memiliki perhatian pada
pendidikan anak-anaknya pada umumnya menganggap bahwa model pendidikan yang
tepat hanya mungkin diperoleh dari homeschooling, dimana mereka dapat
mengatur sendiri kurikulum dan metode belajar yang mendekati ideal.
Disamping
sumbangan positifnya terhadap perkembangan anak, ternyata kritik terbesar yang
banyak diterima praktek homeschooling juga berkenaan dengan perkembangan
anak, yaitu dalam hal kemampuan sosialisasi. Prof. Dr. Arif Rahman, M.Pd.
mengatakan bahwa hal yang harus menjadi titik perhatian penting dari homeschooling
adalah strategi untuk menghindari kekhawatiran bahwa siswa yang mengikuti
metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga
potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul. Kecemasan itu wajar mengingat
lingkungan rumah yang sangat terbatas sehingga anak tidak terbiasa dengan
perbedaan dan cenderung memahami sesuatu daari sudut pandangnya sendiri.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang berasal dari Asia Timur yang
berprestasi bagus di Amerika Serikat adalah karena pengaruh budaya dan praktik
pendidikan di negara asal mereka. Hari dan tahun bersekolah yang lebih tinggi
dibanding sekolah AS, kurikulum yang diatur secara sentral, kelas lebih besar
(sekitar 40 – 50 murid), dan para guru menghabiskan lebih banyak waktu
mengajari seluruh kelas, sedangkan anak AS lebih banyak waktu bekerja sendiri
atau dalam kelompok kecil dan karena itu menerima perhatian yang lebih besar
tetapi lebih sedikit instruksi total.
Di sisi lain,
hasil penelitian Taylor menunjukkan bahwa sangat sedikit siswa homeschooling
yang mengalami masalah dalam berhubungan sosial. Menurutnya, berbagai kritik
yang dilontarkan mengenai homeschooling berkenaan dengan kemampuan
sosialisasi anak justru menghasilkan hal yang sebaliknya. Konsep diri yang
positif yang diperoleh anak-anak dari pendidikan homeschooling ternyata
mampu mendorong kemampuan sosialisasi yang baik.
F.
Motivasi Mengikuti Homeschooling
Sampai awal ke
pertengahan tahun 1970-an, sosiologi pendidikan didominasi oleh isu tentang
pengaruh keluarga dan faktor kelas sosial terhadap prestasi anak di sekolah.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada kemungkinan justru sekolah menjadi
faktor yang berkontribusi terhadap siswa-siswa yang under-achievement.
Di beberapa
wilayah di Amerika Serikat, homeschooling merupakan pilihan resmi bagi
orang tua yang ingin memberikan lingkungan belajar yang berbeda bagi anak-anak
mereka dari sekolah-sekolah yang ada di wilayah tempat tinggalnya.
Homeschooling juga dibutuhkan oleh anak-anak yang tidak bisa mengakses
sekolah; yang rumahnya jauh dari sekolah; atau yang harus membantu orangtuanya
bekerja. Motivasi orang tua untuk memberikan homeschooling bagi anak-anak
mereka bervariasi mulai dari ketidakpuasan dengan sekolah yang ada di wilayah
tempat tinggalnya, sampai pada keinginan untuk mendapatkan hasil ujian yang
baik. Bisa juga merupakan alternatif bagi keluarga yang tinggal di lokasi
terpencil ataupun untuk alasan praktis maupun pribadi karena tidak menginginkan
anak-anak mereka untuk berada di lingkungan sekolah umum. Homeschooling
juga dapat diartikan sebagai instruksi yang diberikan di rumah dibawah
supervisi dari sekolah korespondennya. Di beberapa tempat, ada kurikulum
tertentu yang disyaratkan apabila anak-anak mengikuti homeschooling.
Solusi homeschooling
atas ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan seperti yang umum terjadi di
Indonesia mendapat tanggapan yang sangat beragam dari masyarakat. Ada yang menganggap
bahwa homeschooling merupakan solusi bagi anak yang memiliki kesibukan
luar biasa. Misalnya bagi anak-anak yang terjun ke dunia entertainment,
terutama yang terlibat dalam sinetron stripping. Menurut beberapa
kalangan, upaya yang dapat dilakukan untuk kasus seperti ini (agar anak tidak
ketinggalan pelajaran) adalah: homeschooling.
Bagi selebriti
sekelas Michel Jackson, homeschooling menjadi suatu keharusan. Ketenaran
yang dimilikinya telah memberikan dampak yang demikian besar pada orang-orang
terdekatnya, terutama anak-anaknya. Dampak yang paling tidak menyenangkan
adalah berkurangnya privasi. Di antaranya, mereka selalu menjadi bulan-bulanan paparazzi,
yang bahkan sampai memburu anak-anak ini ke sekolah. Di samping itu, sang King
of Pop ini juga mengkhawatirkan bila anaknya sampai diperlakukan berbeda di
sekolah. “just because you’re michael jackson’s children doesn’t mean i’m
gonna treat you differently…” Beberapa alasan tersebut melatarbelakangi
pemilihan homeschooling oleh Michael Jackson bagi pendidikan
anak-anaknya.
G.
Metodologi Homeschooling
Homeschooling menggunakan
berbagai variasi metode dan material. Ada paradigma atau filsafat pendidikan
yang berbeda yang berusaha diadopsi keluarga yang menyelenggarakan homeschooling
antara lain: unit studies, classical education (termasuk Trivium,
Quadrivium), Charlotte Mason education, metode Montessori,
teori multiple intelligences, Unschooling, Radical Unschooling,
Waldorf education, School-at-home, A Thomas Jefferson
Education, dan banyak lainnya. Beberapa pendekatan ini khususnya unit
studies, Montessori, dan Waldorf, juga digunakan di lingkungan sekolah
swasta atau sekolah umum.
Bukan suatu
yang tidak biasa bagi para siswa untuk menerapkan lebih dari satu pendekatan
bila keluarga menganggap hal itu yang terbaik bagi mereka. Banyak keluarga yang
memilih pendekatan eklektik (campuran).
Untuk sumber
kurikulum dan buku-buku, dapat diperoleh dari Perpustakaan umum; katalog homeschooling,
penerbitan dari seorang spesialis. Ada pula yang mengandalkan toko-toko
buku penyalur. Umumnya menggunakan kurikulum maupun buku-buku dari organisasi homeschooling.
Lainnya berasal dari institusi-institusi religius. Sebagian lainnya mendapatkan
dari sekolah umum atau distrik.
Belajar jarak
jauh dilakukan melalui televisi, video atau radio; sebagian melalui internet,
e-mail, atau web; dan sisanya melakukan melalui korespondensi lewat surat.
Tahun 2001,
menurut “The Canadian based Fraser Institute”, Muslim Amerika merupakan kelompok yang paling cepat
pertumbuhannya dalam melaksanakan homeschooling, bahkan diprediksi akan
menjadi dua kali lipat jumlahnya setiap tahun dalam delapan tahun ke depannya.
H.
Prasyarat bagi Peserta Homeschooling
Bagi kalangan
yang pro dengan homeschooling, jangan dulu cepat-cepat memutuskan untuk
menerapkan tipe pendidikan ini pada anak-anaknya, karena ternyata ada banyak
persyaratan untuk dapat memberikan homeschooling bagi anak-anak.
- Homeschooling dapat diberikan bila seorang anak bisa mandiri dan memiliki displin yang tinggi.
2. Membutuhkan
komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua. Di antaranya, orangtua harus
memiliki waktu untuk mengontrol bagaimana disiplin anak, dan memantau bagaimana
anak menjalankan homeschooling.
- Homeschooling harus dievaluasi oleh pekerja sosial, dan semua yang berwenang tentang sekolah. Hal-hal yang dipertimbangkan antara lain adalah apakah orangtua bisa menjadi tutor bagi anak-anaknya (atau dapat mencarikan tutor yang memenuhi syarat); memiliki waktu untuk mengajar, memiliki berbagai fasilitas belajar-mengajar yang memadai; serta berbagai persyaratan lainnya.
- Berbagai fasilitas yang dibutuhkan antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (pusat perbelanjaan, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).
- Peran dan komitmen total orangtua sangat dituntut. Sebaiknya orang tua juga mengerti kurikulum dan berbagai isu pendidikan. Selain pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka juga harus melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk mendapatkan sertifikat, dengan tujuan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutny
I.
Kontroversi dan Kritik
Penentangan
terhadap homeschooling datang dari berbagai sumber, termasuk beberapa
organisasi guru dan sekolah umum. Beberapa hal yang yang dikritik mencakup:
- Standar kualitas akademis tidak terpenuhi dan tidak komprehensif.;
- Mengurangi sumbangan dana yang diperoleh sekolah umum;
- Rendahnya sosialisasi dengan teman sebaya dari latar belakang agama dan etnik yang berbeda.;
- Berpotensi mengembangkan ekstrimitas agama dan sosial.
- Anak-anak dipisahkan dari lingkungan masyarakat sekitarnya atau tidak diberi hak berupa kesempatan melaksanakan perkembangan sosialnya;
- Berpotensi mengembangkan masyarakat paralel yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar warganegara dan komunitasnya.
J.
Homeschooling di Indonesia
Sebetulnya
sudah lama bangsa kita mengenal konsep homeschooling ini. Bahkan jauh
sebelum sistem pendidikan barat datang. Tengok saja di pesantren-pesantren
misalnya, para kyai, buya, dan tuan guru secara khusus mendidik anak-anaknya
sendiri. Saat ini sistem persekolahan di rumah juga bisa dikembangkan untuk
mendukung program pendidikan kesetaraan.
Bagaimana
sikap pemerintah? Secara prinsip tidak ada masalah. Sebagaimana tercantum dalam
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
(Sisdiknas) dalam pasal 27 ayat (1) dikatakan bahwa, ”Kegiatan pendidikan
informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar
secara mandiri”. Lalu pada ayat (2) dikatakan bahwa, “Hasil pendidikan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan
nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional
pendidikan”. Jadi secara hukum kegiatan homeschooling dilindungi oleh
undang-undang.
Di Indonesia,
perkembangan homeschooling dipengaruhi juga oleh akses terhadap
informasi yang semakin terbuka dan membuat para orang tua punya banyak pilihan
untuk pendidikan anak-anaknya. Diperkuat dengan aspek legalitas 5
Istilah homeschooling ini sudah cukup populer belakangan ini. Sayangnya,
upaya pemasyarakatan homeschooling tidak cukup diikuti dengan informasi
yang berkenaan dengan persyaratan yang seharusnya dimiliki dalam menerapkannya.
Akibatnya, praktek homeschooling di negara kita menjadi berbeda, alias
salah kaprah. Pemasyarakatan homeschooling tidak dengan dasar pikiran
yang tepat dan kuat. Masyarakat – seperti biasanya – sangat cepat memberikan
respon positif; bila yang berbicara adalah orang-orang yang dianggap ahli.
Sebagian kalangan mengatakan bahwa homeschooling di Indonesia tak
ubahnya semacam private school yang eksklusif. Orang tua yang memiliki
anak-anak yang bermasalah dengan lingkungan sosialnya malah dipindahkan ke
sekolah jenis ini. Adapula lembaga-lembaga pendidikan yang membuka peluang ini
bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Orangtua yang masih berpandangan
tradisional umumnya masih menganggap ijazah adalah segala-galanya bagi masa
depan anak-anaknya. Anak-anak spesial yang –tentu saja – tidak memungkinkan
bersekolah di sekolah umum diarahkan untuk mengikuti homeschooling hanya
agar dapat menyelesaikan pendidikannya dan…: mendapatkan ijazah!
Kalaulah
sekolah rumah ini sudah merupakan kebutuhan utama bagi segelintir masyarakat
kita, sebaiknya harus dipertimbangkan lagi berbagai kondisi dan dampak yang
dihasilkannya. Misalnya saja, harus disadari bahwa homeschooling
memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab
atas keseluruhan proses pendidikan anak. Harus diantisipasi berbagai kelemahan
yang dikhawatirkan banyak orang berkenaan dengan ketrampilan sosial anak karena
sekolah ini berpotensi menghasilkan keterampilan sosial yang relatif rendah,
terutama dengan teman sebaya. Bisa jadi akan menimblkan resiko berkurangnya
kemampuan bekerja dalam kelompok, kemampuan berorganisasi dan kemampuan
memimpin. Proteksi berlebihan dari orang tua juga akan menyebabkan anak
mengalami kesulitan untuk menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang
kompleks dan tidak terprediksi.
BAB 3
Penutup
Homeschooling yang juga
disebut pendidikan di rumah merupakan pendidikan bagi anak-anak yang
dilaksanakan di rumah dan secara khusus diberikan oleh guru atau seorang tutor
profesional. Jadi, pendidikan tidak diberikan di sekolah umum ataupun swasta. Homeschooling
dalam pengertian modern, merupakan alternatif pendidikan formal di
negara-negara maju. Dengan kata lain, praktek homeschooling memindahkan
sekolah dari area umum ke area yang lebih privat, yakni ke rumah. Perlu
digarisbawahi disini, bahwa homeschooling tampaknya lebih
direkomendasikan bagi negara yang sudah maju. Bisa jadi ini menyangkut sarana
belajar-mengajar yang harus benar-benar memadai demi suksesnya program ini.
Pro-kontra
tentu saja banyak bermunculan berkenaan dengan isu ini. Masyarakat yang tidak
setuju dengan homeschooling mengatakan bahwa homeschooling
menghambat anak untuk bersosialisasi. Homeschooling hanya akan mengasah
kecerdasan intelektual sementara kebutuhan seorang anak tidak terbatas kepada
kecerdasan intelektual saja, akan tetapi juga meliputi kecerdasan emosi &
kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan
emosi. Berangkat dari pertimbangan itu, kalangan yang tidak mendukung
menganggap homeschooling belum dibutuhkan untuk keadaan saat ini. Di
sekolah umum anak-anak bisa bertemu masyarakat luas sehingga dapat melihat dan
memahami berbagai strata sosial (bila anak tidak bersekolah di sekolah yang
eksklusif bagi kalangan elit). Anak-anak bisa memiliki teman lebih banyak
sehingga dapat mengenal beraneka manusia dengan watak dan taraf kecerdasan yang
bervariasi sehingga memberi pelajaran yang berharga bagi kehidupan. Bagi yang
memiliki romantisme, dunia sekolah dapat memberikan banyak kenangan manis dan
berharga yang akan menjadi nostalgia dan bagian dari masa lalu.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. Esei-esei
Intelektual Muslim Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Berkey, Jonathan. The
Transmission of Knowledge in Medieval Cairo. A Social History of Islamic
Education, Princeton, NJ: Princeton University Press, 1992.
Dewan Redaksi
Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT.Ichtiar Baru van
Hoeve, 2003.
Dweehan. Homeschooling:
Model Pengembangan Sistem Pendidikan
http://www.pnfi.depdiknas.go.id/artikel/20090915092455/Homeschooling–Model-Pengembangan-Sistem-Pendidikan.html1diakses
http://www.pnfi.depdiknas.go.id/artikel/20090915092455/Homeschooling–Model-Pengembangan-Sistem-Pendidikan.html1diakses
Lubis, Syaiful Akhyar.
Pendidikan Islam dalam Era Perubahan Sosial, Hadharah, Jurnal Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi Berbasis Islam. Medan: Universitas al-Washliyah,
2009.
Nakosteen, Mehdi. History
of Islamic Origins of Western Education A.D. 800 – 1350 With an
Introduction to Medieval Muslim Education, Boulder: University of Colorado
Press, 1964.
Papalia, DE., Old,
SW., Feldman, RD. Human Development. New York-USA: McGraw-Hill, 2004.
Rajawat, Mamta. Education
in the New Millenium, New Delhi: Anmol Publication PVT. LTD, 2003.
Simbolon, Pormadi. Homeschooling: Sebuah
Pendidikan Alternatif. http://www.google.com/artikel/homeschooling: sebuah
pendidikan alternatif
Trinanda, Andi.
Pendidikan Homeschooling. Sudah Adaptifkah dengan Pendidikan di Indonesia? http://www.garutkab.go.id/download_files/article/PENDIDIKAN_HOME_SCHOOLING.doc
ath-Tusi Khawajah
Nasiruddin. 2003. Menyucikan hati Menyempurnakan Jiwa. Terjemahan ‘Awsaf
al-Ashraf. Atributes of the Noble’. Jakarta: Pustaka Zahra.
Verdiansyah,
Chris (ed). Homeschooling. Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2007.
Wikipedia.org, Homeschooling,
http://en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling.
2010
Wikipedia, the free encyclopedia. Ibn Qayyim al-Jawziya, http://en.wikipedia.org/wiki/Ibnqayyim. (Redirected
No comments:
Post a Comment